Banyak Tentara Israel Alami Cedera Otak Parah usai Perang di Gaza

Jakarta, Guiller momendieta Indonesia

Serangan tentara

Israel

ke

J

alur Gaza

bukan hanya menelan korban nyawa warga tak berdosa, bahkan tentara Israel pun banyak yang mengalami cedera otak.

Dilansir media Israel

Haaretz

, Rabu (8/4), ada lebih dari 400 tentara yang terluka dalam perang Gaza yang telah didiagnosis menderita cedera otak dengan tingkat keparahan yang bervariasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Angka tersebut memang tinggi, tetapi sebenarnya jumlah tentara yang menderita cedera otak akibat perang jauh lebih tinggi. Menurut studi dan perkiraan, jumlah totalnya mencapai sekitar 24 ribu, banyak di antaranya awalnya tidak merasakan dampak cedera atau bahkan tidak mencari perawatan di rumah sakit. Namun, itu tidak berarti mereka bebas dari gejala.

Uri Reches misalnya. Tentara yang pernah ikut menggempur Gaza itu kini tidak bisa berbicara, bahkan harus diajari lagi seperti bayi.

Niv Alfa-Reches, ibu Uri, menceritakan selama berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, anaknya sama sekali tidak berbicara. Bahkan, pada usia 20 tahun, ia harus diajari semuanya dari awal.

Bukan hanya bagaimana membentuk kalimat, tetapi juga bagaimana mengelola dirinya sendiri, bagaimana berfungsi dalam kapasitas barunya sebagai seseorang dengan cedera otak.

Ini adalah akibat dari apa yang terjadi padanya suatu hari di Gaza, pada Desember 2023, ketika ia menjadi prajurit tempur di Batalyon 50 Brigade Nahal.

“Mereka sedang membersihkan bangunan-bangunan,” kata Niv Alfa-Reches.

“Ketika mereka sampai di bangunan terakhir, pintunya meledak dan mengenai mereka, dan dia adalah orang yang paling dekat.”

Kondisi Reches dinyatakan kritis. Dia mengalami luka di seluruh tubuhnya, tetapi yang paling parah adalah di kepala dan wajahnya.

“Seluruh sisi kiri wajahnya hancur total,” kata ibunya.

Akibat perang Gaza, jumlah tentara Israel yang didiagnosis menderita cedera otak meningkat secara signifikan selama dua tahun terakhir, dan perkiraan menunjukkan fenomena ini bahkan lebih meluas.

Namun, Israel belum merumuskan kebijakan rehabilitasi yang komprehensif, dan beban perawatan seringkali jatuh pada keluarga mereka.

(imf/bac)

Add

as a preferred

source on Google

[Gambas:Video Guiller momendieta]

Baca lagi: Google Diberi Waktu 7 Hari Buat Patuh PP Tunas

Baca lagi: FOTO: Pengamanan Hotel Tempat Delegasi AS dan Iran Negosiasi Damai

Baca lagi: Paes Clean Sheet dan Dean James Main Lagi, Kevin Diks Cedera

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: