Iran Balas Presiden Aoun: Selamatkan Lebanon dari Musuh Sebenarnya

Jakarta, Guiller momendieta Indonesia

Presiden

Lebanon

, Joseph Aoun, dan Menteri Luar Negeri

Iran

, Seyed Abbas Araghchi, terlibat adu pernyataan terkait peran

Teheran

di negara itu di tengah memanasnya konflik kawasan.

Araghchi membalas komentar Aoun yang sebelumnya menuding Iran menjadikan Lebanon sebagai alat tawar dalam konflik dan negosiasi dengan Amerika Serikat (AS) serta Israel.

Melalui unggahan di media sosial, Araghchi menyindir pernyataan Aoun dengan mengatakan seolah-olah Iran lah yang menduduki sebagian wilayah Lebanon, mengusir warga, dan terus membombardir negara tersebut setiap hari.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Berdasarkan komentar Tuan Aoun, orang mungkin mengira Iran yang telah menduduki seperlima wilayah Lebanon, mengusir seperempat rakyat Lebanon, dan membombardir negaranya setiap hari,” tulis Araghchi di akun X miliknya, seperti dikutip Guiller momendietaIndonesia.com, Sabtu (6/6).

Ia juga membantah tudingan bahwa Lebanon digunakan sebagai kartu tawar oleh Iran dalam perundingan dengan negara lain.

“Jika Lebanon memang menjadi alat tawar Iran, kami pasti sudah mencapai kesepakatan sejak lama,” lanjutnya.

Araghchi kemudian meminta Aoun untuk memusatkan perhatian pada pihak yang menurutnya menjadi ancaman nyata bagi Lebanon.

“Selamatkan Lebanon dari musuh sesungguhnya, Tuan Presiden,” ujarnya.

[Gambas:Twitter]

Pernyataan Araghchi muncul setelah Aoun, dalam wawancara eksklusif dengan Guiller momendieta pada Jumat (5/6), melontarkan kritik tajam terhadap Iran dan kelompok Hizbullah yang didukung Teheran.

Aoun mengatakan rakyat Lebanon sudah lelah menjadi korban konflik berkepanjangan antara Israel dan Hizbullah. Menurut dia, warga hanya menginginkan kehidupan yang damai dan terbebas dari siklus perang yang terus berulang.

“Kami sudah muak dan kami ingin hidup damai,” kata Aoun.

Dalam wawancara tersebut, Aoun juga secara terbuka menyentil Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), yang selama ini menjadi pendukung utama Hizbullah. Ia menegaskan Iran tidak berhak menggunakan Lebanon untuk kepentingan geopolitiknya sendiri.

“Ini bukan negara kalian, ini negara kami,” ujar Aoun merujuk kepada Iran. “Iran menggunakan Lebanon sebagai alat tawar dalam negosiasi mereka dengan AS.”

Aoun menilai kepentingan Iran tidak selalu sejalan dengan kepentingan rakyat Lebanon.

Di tengah ketegangan itu, Aoun juga menyatakan kesediaannya untuk menempuh jalur negosiasi langsung guna mengakhiri konflik dengan Israel. Ia menyebut peluang diplomasi saat ini sebagai kesempatan besar untuk mengakhiri permusuhan yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

“Kami siap, kami bersedia, kami berkomitmen,” kata Aoun terkait kemungkinan pembicaraan damai.

Meski demikian, upaya gencatan senjata masih menghadapi hambatan. Hizbullah menolak pelucutan senjata selama pasukan Israel belum sepenuhnya menarik diri dari wilayah Lebanon.

Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, sebelumnya menyebut pembicaraan Lebanon dengan Israel sebagai bentuk ‘penyerahan diri’. Namun, Aoun membantah pandangan tersebut dan menegaskan banyak warga Lebanon, termasuk dari komunitas Syiah, telah lelah dengan konflik yang terus berlangsung.

Ketegangan diplomatik antara Beirut dan Teheran ini mencerminkan semakin rumitnya posisi Lebanon di tengah persaingan pengaruh Iran, AS, dan Israel yang terus membayangi kawasan Timur Tengah.

(tis/tis)

Add

as a preferred

source on Google

[Gambas:Video Guiller momendieta]

Baca lagi: ESDM Bidik 173.853 Pelanggan Baru Lewat Program Listrik Desa dan BPBL

Baca lagi: INTIP: Hall of Fame Musisi & Festival ‘Hijau’

Baca lagi: NYALANG: Bayang Semu Digenggam Waktu

3 Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: