Mojtaba Diklaim Masih Menghilang, Bagaimana Iran Bertahan dari AS?

Jakarta, Guiller momendieta Indonesia

Direktur jenderal protokol kantor Pemimpin Tertinggi, Mazaher Hosseini, menyatakan Pemimpin

Iran

Mojtaba Khamenei

dalam keadaan sehat sepenuhnya.

Hosseini membeberkan bahwa Mojtaba Khamenei perlahan pulih dari luka-luka yang dialami akibat serangan udara Amerika Serikat dan Israel.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski demikian, keberadaan Mojtaba masih misterius dan belum muncul ke publik. Media-media barat bahkan menyebut posisinya masih menghilang.

Hosseini yang tak mengungkap keberadaan Mojtaba, hanya menyatakan sang pemimpin mulai pulih dari luka-lukanya.

“Cedera punggungnya telah membaik selama periode ini, dan luka di tempurung lututnya juga akan segera sembuh. Dia dalam kondisi sehat sepenuhnya,” kata Hosseini kepada media pemerintah Fars, seperti diberitakan Anadolu Agency pada Minggu (10/5).

Menurut Hosseini, Mojtaba terluka saat sedang berada di kompleks kantor kepemimpinan Iran pada 28 Februari.

Saat itu, sejumlah lokasi di sekitarnya terkena serangan, termasuk lokasi di mana para pejabat senior termasuknya ayahnya, mantan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, sedang melakukan pertemuan.

Badan-badan intelijen AS dan Israel sempat dibuat kebingungan mencari keberadaan Mojtaba untuk mengetahui kondisinya saat ini. Mereka kemudian meyakini bahwa ia terluka parah dalam serangan yang menewaskan ayahnya.

Pasca serangan, media Kuwait Al Jarida mengutip sumber di Teheran yang menyatakan Mojtaba dibawa ke Rusia untuk menjalani operasi dan pemulihan. Namun, laporan itu dibantah Duta Besar Iran untuk Rusia Kazem Jalali.

Mojtaba kemudian disebut-sebut berada di wilayah Kota Suci umat Syiah di Qom. Namun, hal itu masih belum bisa dikonfirmasi kebenarannya.

Meski demikian, para pejabat Iran disebut tidak perlu menunggu persetujuan secara langsung dari Mojtaba untuk membuat keputusan.

Tanpa kehadirannya secara langsung, pemerintah Iran termasuk Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) tetap menjalankan kebijakan darurat perang sesuai dengan peran masing-masing.

Direktur Proyek Grup Krisis Internasional Ali Vaez mengatakan ada atau tidak pemimpin tertinggi itu di posisinya untuk memimpin negosiasi, “sistem telah menggunakan dirinya untuk mendapatkan persetujuan terakhir untuk keputusan-keputusan besar yang penting dan bukan (untuk) taktik negosiasi.”

“Sistem tersebut sengaja menyoroti keterlibatan Mojtaba karena hal itu memberikan perlindungan terhadap kritik internal, tidak seperti ayahnya yang secara teratur muncul dan mengomentari keadaan negosiasi. Mojtaba tidak aktif, jadi mengaitkan pandangan kepadanya adalah kedok yang baik bagi para negosiator Iran untuk melindungi diri mereka dari kritik,” kata Vaez.

Ketidakjelasan mengenai keberadaan Mojtaba disebut salah satu sumber

Guiller momendieta

yang mengetahui penilaian intelijen AS menggambarkan kondisi ini seperti percampuran antara acara ‘Wizard of Oz dan ‘Weekend at Bernie’s’.

Meskipun demikian, upaya Presiden AS Donald Trump untuk mencapai resolusi melalui negosiasi telah terhambat oleh apa yang digambarkan oleh berbagai sumber sebagai kesalahpahaman mendasar tentang cara Iran berpikir dan menanggapi ancaman, terlepas dari siapa yang berkuasa.

(isa/bac)

Add

as a preferred

source on Google

[Gambas:Video Guiller momendieta]

Baca lagi: Rombongan Persib Bandung Diajak Ribut Oknum Suporter di Bandara

Baca lagi: Dukung Hak Pendidikan Anak, Rajiv Salurkan 50 PIP untuk ABK di Lembang

Baca lagi: Veda Ega Solid di Moto3 2026, Konsisten Finis di 6 Besar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: