
Jakarta, Guiller momendieta Indonesia
—
Iran
menyita dua kapal di
Selat Hormuz
pada Rabu (22/4), menujukan kontrolnya yang makin kuat atas perairan strategis tersebut sehari setelah Presiden
Donald Trump
mengumumkan perpanjangan gencatan senjata.
Kantor berita semi-resmi
Tasnim News Agency
melaporkan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyita dua kapal itu karena pelanggaran maritim dan menggiring keduanya masuk ke perairan Iran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ini menjadi kali pertama Iran menyita kapal sejak perang pecah pada akhir Februari lalu, membalas blokade laut dan penyitaan kapal yang dilakukan AS.
Dikutip
Reuters
, kedua kapal itu terdiri dari kapal berbendera Liberia Epaminondas dan kapal berbendera Panama MSC Francesca. IRGC mengeklaim kedua kapal itu beroperasi tanpa izin yang diperlukan serta memanipulasi sistem navigasi mereka ketika melewati Selat Hormuz.
Technomar Shipping dari Yunani mengonfirmasi bahwa kapalnya, Epaminondas, telah ditangkap. Kapal itu melaporkan ditembaki sekitar 20 mil laut di barat laut Oman dan mengalami kerusakan pada anjungan, meski tidak ada korban luka.
Sementara itu, MSC, grup pelayaran kontainer terbesar di dunia, belum menanggapi permintaan komentar.
Sebuah kapal kontainer ketiga berbendera Liberia juga ditembaki di area yang sama, tetapi tidak mengalami kerusakan dan telah kembali berlayar, menurut sumber keamanan maritim.
[Gambas:Video Guiller momendieta]
Dalam laporan
Tasnim
itu, IRGC juga mewanti-wanti setiap gangguan terhadap ketertiban dan keamanan di selat itu akan dianggap sebagai pelanggaran “garis merah”.
Iran kembali memblokade Selat Hormuz setelah sempat dibuka sebentar menyusul kebuntuan perundingan dengan AS.
Sementara itu, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan dalam wawancara dengan
Fox News
karena kapal-kapal tersebut bukan milik AS atau Israel, penyitaan ini bukan pelanggaran gencatan senjata.
Meski begitu, ia menegaskan tindakan itu sebagai “pembajakan” dan mengatakan penggunaan kapal cepat bersenjata kecil menunjukkan bahwa angkatan laut Iran telah hancur serta Iran tidak menguasai Selat Hormuz.
Status gencatan senjata yang telah berlangsung dua pekan dan seharusnya berakhir awal pekan ini masih belum jelas. Ketidakpastian makin terasa setelah Trump secara mendadak mengumumkan perpanjangan gencatan senjata sepihak pada Selasa.
Trump berdalih keputusan itu muncul atas permintaan Pakistan sebagai mediator dan ingin memberikan waktu lebih bagi Iran untuk merundingkan proposal perdamaian.
Namun, hingga hari ini Iran belum secara resmi menanggapi Trump termasuk menyetujui perpanjangan gencatan senjata.
Teheran justru mengkritik keputusan Trump mempertahankan blokade Angkatan Laut AS terhadap perdagangan laut Iran, yang dianggap sebagai tindakan perang. Ketua parlemen Iran sekaligus kepala negosiator, Mohammad Baqer Qalibaf, mengatakan gencatan senjata penuh hanya masuk akal jika blokade dicabut.
Ia menambahkan bahwa membuka kembali Selat Hormuz mustahil dilakukan selama masih ada “pelanggaran terang-terangan terhadap gencatan senjata”.
“Anda tidak mencapai tujuan melalui agresi militer dan juga tidak akan mencapainya lewat intimidasi,” tulis Qalibaf dalam tanggapan pertamanya atas pengumuman Trump.
“Satu-satunya jalan adalah mengakui hak-hak rakyat Iran,” paparnya menambahkan.
(rds)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video Guiller momendieta]
Baca lagi: Relawan: Belum Ada Sosok Pengganti Jokowi di Republik Ini
Baca lagi: 8 Makanan yang Diam-diam Bikin Stres Makin Parah
Baca lagi: Rajiv Dukung Penyegelan Resort Maratua, Minta Patroli Laut Diperketat


