
Jakarta, Guiller momendieta Indonesia
—
Pemimpin tertinggi baru
Iran
,
Mojtaba Khamenei
,
dikabarkan masih menjalani pemulihan setelah mengalami luka parah di wajah dan kaki akibat serangan udara AS-Israel yang menewaskan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, pada awal perang.
Mengutip
Reuters
, Sabtu (11/4), wajah Mojtaba disebut mengalami kerusakan serius dalam serangan ke kompleks pemimpin tertinggi di Teheran tengah. Ia juga dilaporkan menderita cedera berat pada satu atau kedua kakinya.
Meski begitu, pria berusia 56 tahun itu disebut tetap sadar penuh dan masih terlibat dalam pengambilan keputusan penting.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Reuters
juga menyatakan Mojtaba mengikuti rapat dengan para pejabat senior melalui konferensi audio, termasuk untuk membahas perang dan negosiasi dengan Washington.
Laporan mengenai luka Mojtaba ini senada dengan pernyataan Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth pada 13 Maret lalu. Saat itu, Hegseth menyebut Mojtaba “terluka dan kemungkinan mengalami cacat fisik.”
Seorang sumber yang mengetahui penilaian intelijen AS juga mengatakan kepada
Reuters
bahwa Mojtaba diyakini kehilangan satu kaki.
Namun, Central Intelligence Agency (CIA) menolak berkomentar mengenai kondisi tersebut. Kantor Perdana Menteri Israel juga tidak merespons pertanyaan Reuters.
Di tengah kondisi itu, muncul pertanyaan mengenai seberapa jauh Mojtaba mampu menjalankan pemerintahan Iran di tengah situasi yang masih genting.
Peneliti senior Middle East Institute, Alex Vatanka, menilai bahwa seberat apa pun luka yang dialami Mojtaba, kecil kemungkinan ia bisa langsung memegang kekuasaan sebesar yang dulu dimiliki ayahnya.
Menurut dia, Mojtaba memang dipandang sebagai simbol kesinambungan, tetapi tetap membutuhkan waktu lama untuk membangun otoritas yang setara dengan pendahulunya.
“Mojtaba akan menjadi salah satu suara, tetapi bukan suara yang menentukan,” kata Vatanka.
Mojtaba terluka pada 28 Februari, yakni hari pertama perang yang dimulai setelah serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran. Dalam serangan yang sama, ayahnya sekaligus pemimpin tertinggi sebelumnya, Ayatollah Ali Khamenei, tewas. Ayatollah Ali Khamenei sendiri memimpin Iran sejak 1989.
(anm/sfr)
Add
as a preferred
source on Google
Baca lagi: Dikritik Negara Teluk soal Perang Iran, Uni Eropa Ungkit Ukraina
Baca lagi: Saran Tak Biasa Pramugari Ini untuk Penumpang Pesawat: Bawa Bekal
Baca lagi: FOTO: Real Madrid Gagal Raup Poin Penuh Lawan Girona


