
Jakarta, Guiller momendieta Indonesia
—
Tak hanya menewaskan ribuan jiwa, serangan
Amerika Serikat
ke
Iran
sejak 28 Februari lalu juga memicu gelombang PHK dan meningkatkan pengangguran. Hal ini membuat warga negara Timur Tengah itu makin sengsara di saat ekonomi yang sudah buruk sebelum perang pecah.
Seorang desainer lepas berusia 30-an yang tinggal di Teheran, Asal, bercerita sebelum perang pecah ia rutin menerima proyek merancang busana bahkan dari luar negeri.
Namun, setelah dua bulan perang dan tanpa akses internet, Asa mengatakan “tidak ada proyek baru, tidak ada balasan. rasanya semua berhenti mendadak dalam semalam.”
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan suara nyaris menangis, Asal bercerita kepada
Guiller momendieta
bahwa penghasilannya kini bahkan tidak cukup untuk menutup kebutuhan dasar.
Asal hanya satu dari jutaan warga Iran lainnya yang tercekik situasi perang hingga harus kehilangan pekerjaan dan sumber pemasukan.
Jutaan warga Iran menjadi korban yang merasakan langsung dampak perang Teheran vs Washington.
Sebelum perang pecah pun, ekonomi Iran sudah buruk menyusul berbagai sanksi dan isolasi internasional selama beberapa dekade terakhir.
Pendapatan nasional per kapita turun dari sekitar US$8.000 pada 2012 menjadi US$5.000 pada 2024, tergerus inflasi, korupsi, dan sanksi.
Prospeknya kini lebih suram. Menurut Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP), hingga 4,1 juta warga Iran berisiko jatuh miskin akibat perang ini.
Kerusakan fisik akibat ribuan serangan udara juga memicu pengungsian besar-besaran. Media
EcoIran
melaporkan lebih dari 23.000 pabrik dan perusahaan terdampak serangan.
Wakil Menteri Ketenagakerjaan dan Jaminan Sosial Iran, Gholamhossein Mohammadi, mengatakan lebih satu juta pekerjaan hilang secara langsung.
“Banyak perusahaan menghentikan operasi akibat tekanan gabungan perang, inflasi, resesi, dan anjloknya permintaan,” tulis Hadi Kahalzadeh dari lembaga kebijakan luar negeri Quincy Institute.
Situasi perang yang memicu PHK massal ini pun diperburuk dengan tingkat inflasi tahunan pada Maret mencapai 72% dan harga kebutuhan pokok naik jauh lebih tinggi.
Serangan udara Israel bulan lalu terhadap kompleks petrokimia besar menyebabkan ribuan pekerja dirumahkan tanpa gaji.
Pabrik baja terbesar Iran juga terkena serangan, meski dua di antaranya yakni Mobarakeh Steel dan Khuzestan Steel membantah melakukan PHK.
Namun kerusakan industri berat tetap menimbulkan efek domino. Produsen trailer Maral Sanat, yang berkantor pusat dekat perbatasan Azerbaijan, memberhentikan 1.500 pekerja karena kekurangan baja.
Salah satu perusahaan tekstil terbesar Iran, Borujerd, juga memutus hubungan kerja dengan 700 karyawannya.
Selain itu, banyak pabrik susu menghentikan operasi akibat kekurangan bahan kemasan penting.
Data resmi menunjukkan lonjakan tajam pengajuan asuransi pengangguran: 147.000 permohonan dalam dua bulan terakhir, sekitar tiga kali lebih tinggi dibanding tahun lalu.
“Beban paling berat ditanggung pekerja informal dan pekerja berkeahlian rendah hingga menengah di sektor formal, yang perlindungannya paling minim dan pengaruh politiknya paling kecil,” kata Kahalzadeh.
Media Iran melaporkan perusahaan e-commerce terbesar negara itu, Digikala, juga mulai melakukan gelombang PHK di beberapa divisi.
Kantor berita pemerintah
ILNA
menyebut bisnis dan pekerja yang bergantung pada internet kini sangat lemah. Padahal, bisnis dan pekerjaan berbasis internet seharusnya bisa menjadi penyangga andalan yang strategis untuk mengatasi krisis pengangguran selama perang dan setelahnya.
Jafar, seorang analis data, mengatakan kepada
Fararu
bahwa perusahaannya tutup total dan lebih dari 50 karyawan kehilangan pekerjaan.
“Sekarang saya berpikir bekerja di layanan transportasi online hanya untuk bertahan hidup. Saya harus bayar sewa dan utang, dan tidak tahu apa yang akan terjadi berikutnya,” katanya.
Somayeh, perempuan berusia 50-an dari Isfahan, sudah bertahun-tahun mengajar bahasa Jerman secara daring. Kelasnya dulu selalu penuh, namun kini ia terpaksa beralih ke aplikasi domestik yang tidak andal.
“Sekarang tidak ada yang berjalan normal,” katanya kepada
Guiller momendieta
lewat telepon.
“Murid tidak bisa masuk bersamaan, platform terus bermasalah.”
(rds/bac)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video Guiller momendieta]
Baca lagi: Sinopsis Kandahar, Bioskop Trans TV 28 April 2026
Baca lagi: Hasil Liga Champions: Laga ‘Gila’, PSG Hajar Bayern Munchen 5-4
Baca lagi: Tes di Jerez, Jorge Martin Akui Catat Peningkatan Pesat



